Artikel P3A

Belajar Mengatakan Ya

Written by Satwika Lestari

Menemukan sesuatu yang bisa membuat orang dekat tersenyum, itulah bunga spiritual sangat indah yang bisa diberikan kepada dunia. Terutama di tengah dunia yang penuh dengan hawa ketakutan, kekerasan dan kemarahan. Hawa panas bumi seperti ini mirip dengan ibu kandung yang memanggil-manggil: “Siramkan banyak air pada taman yang kering. Bagikan banyak senyuman pada jiwa-jiwa yang kering”. Sebagian tokoh publik memang marah dengan keadaan yang membuat mereka marah. Beberapa pemimpin memang semakin terbakar oleh dunia yang sedang terbakar. Tapi jiwa-jiwa indah seperti Anda ada di sini tidak untuk terbakar, tapi ada di sini untuk mekar. Kemudian berbagi indahnya wewangian senyuman kepada dunia.

Dalam bingkai berfikir seperti inilah, maka kehadiran buku Zig Ziglar yang berjudul “Something To Smile About” menjadi sangat menyegarkan. Ia seperti air segar di taman yang kering. Ia seperti senyuman indah di tengah orang yang marah-marah. Buku yang berisi kumpulan cerita-cerita pendek ini memang penuh dengan bahan-bahan renungan yang membuat hati tersenyum. Perhatikan tulisan jiwa bercahaya ini yang berjudul “Belajar mengatakan Ya”. Di kala anak-anak bertanya: “Mama, boleh tidak saya menonton acara TV kesukaan saya?”. Mamanya disarankan menjawab: “Ya, setelah engkau selesai mencuci piring dan meletakkan di tempatnya dengan rapi”. Kapan saja anak pria mau meminjam mobil papanya untuk pergi menyelesaikan tugas sekolah di rumah teman, papanya disarankan menjawab: “Ya, setelah engkau selesai mencuci mobilnya”. Inilah contoh-contoh kecil namun bercahaya yang membuat orang-orang dekat tersenyum.

Sebagai bahan renungan, salah satu sebab kenapa dunia demikian panas oleh kekerasan dan kemarahan, karena terlalu banyak manusia yang sedikit-sedikit mengatakan tidak. Jangankan untuk hal-hal besar dan mendasar, bahkan untuk hal yang sangat kecil dan sepele pun orang-orang mengatakan tidak. Akibatnya, di sana-sini terlihat manusia yang di dalamnya penuh ketegangan. Ia tidak saja menyebabkan orang miskin senyuman, tapi juga membuat manusia mudah melakukan pertengkaran. Perhatikan tulisan Zig Ziglar yang berjudul “Yang penting bukan apa yang Anda tidak miliki” yang bercerita tentang Wendy yang terlahir tanpa lengan, tapi bisa menjadi juara dua dalam lomba renang, bisa mengetik dengan kecepatan yang tinggi, serta menikmati permainan ski. Pesannya sederhana, agar Anda bisa berbagi senyuman kepada orang sekitar, latih diri untuk berbahagia dengan apa-apa yang Anda miliki. Sebuah pencapaian spiritual yang tidak saja indah untuk jiwa di dalam, tapi juga indah bagi dunia yang sedang penuh dengan kebakaran.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

About the author

Satwika Lestari