Artikel P3A

Merenungkan Kelahiran Anak-Anak Autis

Written by Satwika Lestari

Di Amerika Serikat yang statistiknya lebih terbuka dibuka data, 1 dari 45 anak-anak di sana didiagnosis terkena autis. Pada saat yang sama, kecenderungan statistiknya terus menaik. Sejauh ini memang ada banyak penjelasan tentang anak-anak autis. Lengkap dengan latar belakang disiplin masing-masing. Berikut serpihan pengalaman yang muncul di kelas-kelas meditasi.

Sekali lagi hanya serpihan pengalaman. Mudah-mudahan bisa memberi inspirasi pada para sahabat. Pertama, nyaris semua orang tua anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis itu sensitif. Bahasa psikologinya empath. Biasanya Ibunya. Bekalnya untuk para sahabat, hati-hati jika istrinya sensitif. Khususnya ketika hamil. Kita tahu keadaan kejiwaan Ibu hamil berpengaruh pada anak.

Lebih awal para suami sadar akan hal ini lebih baik. Setidaknya jangan pernah membuang emosi negatif pada istri sensitif yang sedang hamil. Jika lagi terbakar di dalam, sebaiknya mencari media ekspresi yang lebih sehat seperti teriak-teriak sambil main bola. Kedua, bagi Ibu sensitif yang sedang hamil, dianjurkan untuk belajar meditasi mendalam.

Meditasi ada di semua agama. Tidak terdengar ada agama yang melarang meditasi. Pendekatan yang disarankan, hindari keadaan pikiran (perasaan) yang serba ekstrim. Merasa terlalu benar atau terlalu salah. Terlalu sedih atau terlalu senang. Bimbing diri untuk selalu tersenyum indah di tengah. Di tengah itulah tersedia wilayah-wilayah kesembuhan dan kedamaian.

Bagi para sahabat yang belajar fisikanya David Bohm tahu, kata health (kesehatan) berasal dari kata whole (ke-u-Tuhan). Latih diri untuk melihat kehidupan secara utuh. Di mana ada siang, di sana ada malam. Di mana ada kelebihan, di sana ada kekurangan. Kurangi manja hanya mau kelebihan. Bersahabatlah dengan baik kekurangan maupun kelebihan.

Langkah praktisnya, apa pun yang terjadi di saat ini, kembalikan perhatian (konsentrasi) pada nafas. Khususnya pada jeda diantara dua nafas. Ia membuat Anda terhubung rapi dengan saat ini. Melalui pendekatan ini, emosi relatif terkendali. Sehingga dampak emosi tidak positif Ibu hamil pada janin relatif lebih sedikit. Berdoa indah tentang janin selalu baik dan dianjurkan bagi Ibu hamil.

Ketiga, setelah anak-anak lahir, belajar peka melihat tanda-tanda pada anak-anak. Tidak sedikit anak yang ketika kecil terlihat sehat dan normal, tiba-tiba di umur sekian berubah menjadi berkebutuhan khusus. Tidak perlu curiga ini dan itu, bekali diri dengan ilmu kesehatan anak secara cukup. Tubuh manusia ada yang sama ada yang tidak sama.

Yang perlu dikenali dari ilmu kedokteran, ilmu ini berbasis statistik. Statistik menyukai rata-rata. Serta mengarahkan nyaris semua orang agar mendekati rata-rata. Ada yang cocok dengan pendekatan ini, ada yang tidak cocok. Peka, itu intinya. Keempat, jika anak betul-betul tumbuh menjadi berkebutuhan khusus seperti autis, tidak perlu menambahkan panah baru pada luka yang ada.

Maksudnya, kesimpulan anak berkebutuhan khusus tentu saja menimbulkan luka sementara. Tapi tidak perlu menyebut diri berdosa, bersalah, atau menyalahkan ini itu. Konsentrasilah pada menyembuhkan luka yang ada. Sambil bekali diri sejak awal, sekecil apa pun kemungkinannya, pintu keajaiban kesembuhan mungkin saja terbuka.

Bekal melangkahnya, belajar lebih dalam tentang efek placebo. Seseorang tidak disembuhkan oleh obat yang datang dari luar, tapi disembuhkan oleh keyakinan yang tumbuh dari dalam. Dalam bahasa orang spiritual, begitu semua Cahaya terlihat padam, masih ada satu Cahaya yang tersisa. Yakni keyakinan yang dipadukan dengan keikhlasan.

Saat melangkah, yakinlah. Berkaitan dengan hasil, ikhlaslah. Keluarga Compassion sudah dibimbing bertahun-tahun untuk memadukan antara keseimbangan dengan keterhubungan. Seimbang dalam arti seluas-luasnya. Terhubunglah dalam arti sedalam-dalamnya. Bimbing diri dan anak untuk tumbuh tidak jauh dari keseimbangan dan keterhubungan.

Di keluarga Compassion, kami pernah didatangi seorang remaja puteri cantik yang bercerita polos seperti ini: “Saya waktu kecil autis. Sekarang sudah sembuh. Bahkan sudah siap-siap berangkat belajar S2 di AS karena dapat beasiswa”. Setelah digali, titik balik kesembuhan terjadi karena ia berjumpa seorang pacar yang menerima dirinya apa adanya.

Ringkasnya, buku suci benar ketika menulis: “Love and compassion heals both the healed and the healer”. Cinta kasih dan belas kasih menyembuhkan, tidak saja yang disembuhkan, tapi juga yang menyembuhkan. Ringkasnya, apa pun yang terjadi, bekali diri di sepanjang perjalanan dengan cinta kasih dan belas kasih.

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo courtesy: Twitter

About the author

Satwika Lestari