Seorang kawan dekat bertanya di depan temannya: “Guruji, kawan saya ini bipolar. Kadang baik sekali, kadang kata-katanya menyakitkan sekali…”. Sejujurnya, dalam kadar yang berbeda kita semua memiliki bipolar. Untuk direnungkan bersama, salah satu unsur pembentuk tubuh manusia adalah api. Api di biologi punya kawan dalam bentuk emosi di psikologi.
Jadi, semasih punya tubuh manusia, selama itu juga akan ada emosi yang naik turun. Bahkan Buddha pun mimik mukanya berubah sedikit tatkala diserang orang. Pelajarannya, kurangi menghakimi orang dengan sebutan bipolar. Belajar menyembuhkan benih-benih bipolar di dalam. Di jalan tua meditasi, obatnya bernama kesadaran penuh.
Sebut saja tadi malam para sahabat kurang tidur, ditambah dengan pagi-pagi dibentak istri. Kombinasi ini akan mengundang munculnya emosi berbahay di dalam. Jika itu terjadi, menjauhlah dari segala hal yang membuat emosi terbakar. Kurangi multi tasking, berbicaralah hanya dengan orang yang sejalan, tunda dulu pekerjaan yang mungkin menimbulkan amarah.
Dengan cara ini, para sahabat tidak saja sehat selamat, tapi juga ikut menyebarkan kedamaian di lingkungan sekitar. Simpan di dalam hati jiwa-jiwa yang indah, begitu Anda sepenuhnya damai (vibrasinya 1.000), jangankan tindakan, bahkan tatapan mata Anda pun berbagi kedamaian pada lingkungan sekitar.
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri) Keluarga Compassion 0361 845 5555
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian) Keluarga Compassion 08233 5555 644
Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter
